Meira

Aku, Meira gadis cantik, mahasiswi hukum semester akhir. Kecelakaan itu, telah merenggut semuanya dariku..

Aku, ayah, ibu dan kedua adikku memang telah merencanakannya jauh-jauh hari untuk berlibur ke Jogja.  Kami sekeluarga berkeliling di kota Gudeg itu, mulai dari Taman Sari, Malioboro, Parang Tritis, Baron, Kukup, Krakal dan beberapa pusat perbelanjaan. Tiga hari kami habiskan untuk bersenang senang disana. Sebenarnya, aku bersikeras menunda kepulangan kami dua hari lagi, karena masih ingin menemui beberapa teman disana dan perasaanku tidak enak jika harus pulang hari itu juga. Ayah dan ibu tetap tak mengabulkan keinginanku, maka pulanglah kami hari itu juga ke kota Semarang. Perjalanan kami lancar, hingga memasuki kota Semarang di jalan curam yang bernama Gombel, tiba-tiba truk di belakang kami kehilangan kendali menabrak beberapa mobil di depan termasuk mobil kami dan semuanya menjadi gelap.

***

Aku siuman setelah tak sadarkan entah berapa lama. Tangan dan kakiku mati rasa, kurasakan mukaku perih seperti terbakar, leherku dipasang penopang. Aku melihat langit-langit putih bersih, kukenali sebagai rumah sakit karena bau obat yang menyengat masih dapat kucium. Aku sekuat tenaga menggerakkan tanganku, akhirnya tanganku bisa bergerak dan membuat seseorang yang kepalanya bersandar didekat tanganku terbangun, menengok ke arahku. Ternyata dia tante Rini adik ibuku, dia lalu memelukku, dan memanggil dokter untuk mengecek keadaanku. Kata tante Rini, aku sudah koma selama dua bulan, dan saat kutanya nasib kedua orang tuaku dan adikku, Tante hanya menangis terisak. Mereka meninggal di tempat kejadian kecelakaan, dan hanya aku yang selamat. Langit rasanya runtuh saat mendengar kabar itu, kini hanya ada aku sendiri. Meski ada tante Rini adik ibuku satu-satunya, tetap saja berbeda. Ditambah lagi berita tentang kerusakan wajahku, tulang rahang kananku hancur , kakiku lumpuh sementara, dan kekasihku meninggalkanku, rasanya aku ingin mati saja menyusul orang tuaku dan adikku.

***

Aku dibawa ke Singapura, untuk menjalani operasi lanjutan rekonstruksi wajah, dan terapi untuk penyembuhan kelumpuhan kakiku. Kebetulan Om Toni suami tante Rini sedang tugas disana, jadi beliau yang menjagaku selama aku di Singapura. Operasi demi operasi kujalani, sebenarnya aku sudah tak tahan, rasanya nyeri menusuk-nusuk wajahku. Aku harus menjalani lima belas kali operasi untuk mengembalikan wajahku hingga sempurna. Belum lagi aku menjalani terapi kaki agar dapat berjalan lagi. Delapan bulan lebih aku berjuang mengembalikan kondisi tubuhku. Hanya saja kondisi psikisku belum kembali. Sesekali tante Rini menengokku, anak-anak dan pekerjaan membuatnya tak dapat mendampingiku. Om Toni, hanya dia yang selalu menyemangatiku, memperhatikanku. Kini aku merasa tak sebatang kara lagi.

“Mei, ayo bangun.. kita berangkat terapi sayang” Sapa Om Toni sambil mengecup keningku.

“Iya om..” Aku bergegas bangun dan memeluk Om Toni. “I Love you Om..” Bisikku padanya.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s