Saat indera kita saling merindu (?)

Me: Iz, kau selalu menjadi nafas sajak-sajakku, tanpamu kata-kata mati merindumu

Him: Bila aku adalah nafas, kaulah hidung yang tak lelah menghelanya. Tanpamu, aku bukanlah hidup..

Me: Engkaupun mata dari setiap kata dalam sajak-sajakku, tanpamu aku buta, tak dapat mengenali siapa diriku.

Him: Engkau adalah telinga, yang setia mendengar cinta bicara, bahkan ketika cinta bisu, cinta tertawa.

Me: Kita indera yang saling melengkapi, hingga aku bergantung padamu duhai lelaki.. Tanpamu,  entah jadi apa hidupku nanti.

Him: Biarlah kata cinta menjadi bisu di bibirku, hingga datang bibirmu yang menerjemahkannya menjadi suara.

Me: Biarlah kata cinta melumpuhkan sendi-sendi tulangku, hingga datang pelukmu yang menggenapi, menopang tubuhku.

Him: Pada akhirnya, adalah cinta; doa yang bergetar terpendar dari bibirku menuju bibirmu, jatuh tersungkur pada kedalaman rahasia.

Me: Bibirmu lautan, tempat bibirku bermuara, lalu cintaku diterjang rindu, akhirnya pulang bersandar di dadamu yang nyaman.

Him: Datanglah, bersandarlah juga pada bahu doaku, tempat paling nyaman, selain surga.

Me: Aku datang, lelakiku, doakan kita.. Agar kelak dapat berjumpa, memupus rindu yang berkerak di dada.

Him: Akan ada suatu tempat untuk kita bertemu, melepas kerak yang telah melekat lama, menggerogoti sebagian rindu. Jika bukan disini, mungkin disana, di Mars, surga kita


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s