Jangan pernah dewasa

Aku ingin kita kembali menjadi kanak-kanak.
Berangkat ke sekolah berdua.
Kemudian belajar mengeja dan menulis nama kita.
Berebut mainan ayunan berdua.

Ketika pulang sekolah, aku akan menggandeng tanganmu, lalu berkata:
“Ayo beli arum manis!”
Kamu menyambut gandenganku dengan riang.
Ketika arum manisku jatuh, aku menangis.
Kamu mengusap air mataku, sambil menyodorkan arum manis milikmu.
Ah, betapa manisnya kamu!

Tapi terkadang kita bertengkar.
Kamu mulai menyebalkan!
Aku menangis karena kamu mengejekku.
Kemudian kamu minta maaf.
Aku tersenyum, lalu kita berbaikan.
Kembali berdua bermain ayunan.

***

Sayang, aku mencintaimu beserta sifat menyebalkan dan kekanak-kanakanmu.
Jangan pernah dewasa bila kau sedang dalam pelukanku.


6 thoughts on “Jangan pernah dewasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s