Abstraksi Rindu

Secangkir coklat hangat, dan dua potong donat.
Lalu kita mengejar waktu yang berlari begitu cepat.
Bus yang akan membawaku meninggalkan dirimu berangkat pukul tujuh kurang seperempat.
Setiap jalan yang kita lalui, mengingatkan bahwa setelah kita berpisah nanti, rindu akan begitu jahat.
Kau genggam tanganku erat, aku merapatkan diriku yang sedikit menggigil pada badanmu yang hangat.

***

Malam ini aku mengingatmu
Masih seperti dulu..
Meskipun waktu berlalu.
Aku masih mencintaimu, tanpa akhir seperti janjiku dulu.

***

Ah, Kamu..
Aku merindukanmu dengan sangat.
Kapan terakhir kita bertemu pun aku sudah tak ingat.
Ah, pertengkaran terakhir kita!
Semua tiba-tiba menjadi rusak; kita, hatiku, dan (mungkin) kamu?

***

Kemudian aku menjadi begitu naif.
Mencari cinta kesana – kemari, yang akhirnya tetap berujung kepadamu lagi.
Kemudian mencari pembenaran dari kesalahan mempertahankan hati untukmu.
Menurutku hati ini sudah benar memilih kamu sebagai penghuninya.
Meskipun orang-orang menganggap salah, aku tutup mata dan telinga.
Mereka tau apa?

***

Sampai saat ini, tak pernah ada yang pudar.
Hati ini selalu terjaga untukmu.
Masih setia, dengan kenanganmu.
Masih berlangganan, merindukan dirimu.

***

Semarang, 29 Mei 2012

~ di kamar dan sedang merindukan kamu yang dulu.


One thought on “Abstraksi Rindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s