POLITIK vs SOCIAL MEDIA

Disclaimer: Ini hanya pemikiran salah seorang warga negara Indonesia yang suka ngegalau rauwis uwis™ dan hanya butiran marimas saja. Yang sedikit ingin ngomongin masalah politik.

 

***

 

Sebentar lagi akan memasuki tahun 2014. Sepertinya tahun yang sangat menyenangkan karena akan berlangsung Piala Dunia dan Pemilihan Umum di Indonesia kita tercinta ini. 

Mulai banyak tokoh-tokoh politik berancang-ancang meraup simpati sebanyak-banyaknya supaya jalan ke-politik-annya mulus, semulus paha anggota SNSD. Sekarang yang banyak dilakukan, mereka mulai tebar pesona lewat media. Belum mulai pemilihan umum banner-banner sudah ada di mana-mana. Saya pernah melihat mobil dengan gambar mantan gubernur ibukota tulisannya kurang lebih: “Calon Presiden 2014”, dan kabarnya beliau sempat mendapat masalah dengan KPU karena mulai berkampanye. Yang terakhir kemarin saya lihat, salah satu partai memasang semacam lampion di daerah Lemah Abang Kabupaten Semarang seperti yang ada di BNS (Batu Night Spektakuler) Malang dengan ukuran yang sangat besar sekali, dan mencolok, maklum saja pendirinya sedang berkoalisi dengan pemilik group media besar di Indonesia dan sedang gencar kampanye kalau mereka adalah bakal pasangan presiden dan wakilnya tahun depan. Padahal belum memasuki masa kampanye. Hvftt.

Lalu akhir-akhir ini saya liat ada banner (pop up iklan) di salah satu portal berita, yang cukup mengganggu karena menghalangi apa yang akan saya baca di portal tersebut, wajahnya enak dilihat, tapi tetap saja mengganggu dan akhirnya mengurangi simpati saya pada bapak tersebut. Kabarnya dia akan ikut konvensi capres salah satu partai politik yang dua pemilu terakhir kemarin mendapat banyak suara. Dan sepertinya dia sedang gencar akan ber-campaign di social media (twitter). OH GOD, WHY?!

 

***

 

Saya sendiri bukan orang yang anti dengan beberapa following yang sedang gencar campaign/ngebuzz, selama dalam batasan wajar dan yang di-campaignkan adalah “produk” atau “event”, bukan politik.

Kalau sudah berhubungan dengan politik, entah kenapa saya sedikit alergi. Karena bagi saya, campaign politik itu ada sebuah “beban” tersendiri. Iya kalau yang dicampaignkan akan menjalankan amanah dengan baik (kalau sudah terpilih), kalau tidak?? 

Politikus sendiri juga harus bijaksana dalam berkampanye sih, jangan hanya mengejar popularitas akhirnya melakukan segala cara, yang berujung “annoying”, seperti memasang banner-banner mengganggu atau membuat pencitraan baik yang bull-shit tersebar di mana-mana. Kalau memang dia baik ya baik saja, tanpa perlu promo atau kampanye ke sana-sini dan tunjukkan dengan perbuatan, pasti masyarakat bakalan menilai “baik dan pantas untuk jadi pemimpin”.

Bayangkan saja dana kampanye yang digunakan untuk pasang banner di jalan, di portal berita online, di socmed untuk membayar iklan dan buzzer. Tidak sedikit lho.. Apa iya jika akhirnya jadi pemimpin mereka tidak akan tergoda untuk mengembalikan “MODAL” bahkan berkali-kali lipat??

 

Sampai sekarang, saya rasa tidak ada negarawan se-ikhlas dan se-keren Soekarno, Moh. Hatta, Hoegeng, dan Gus Dur.

 

Saya jujur, sedikit hopeless dengan tokoh-tokoh politik sekarang yang tidak bermutu.

 

 

🙂

 

Ya tapi hidup itu pilihan, mau jadi buzzer politikus atau tidak, tapi jadi buzzer politikus duitnya juga banyak, sayang kalau tidak diambil kesempatannya.


4 thoughts on “POLITIK vs SOCIAL MEDIA

    1. aku juga pengen om, tapi ndak tau ke mana😦 #lho

      bhahahahahak

      itu si bapak yang ganteng ngincer yang followernya banyak om, jadi syaratnya emang kudu puluhan ribu kalo ndak salah : ))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s