Kompilasi Flash Fiction dari lagu-lagu Sheila On 7

Berawal dari postingan Path Eka Otto alias Nulul ini :

ImageImage

Akhirnya beberapa dari kita nurut-nurut saja bikin Flash Fiction dari lagu-lagu Sheila on 7 di comment postingan path tadi, padahal sudah tengah malam waktu itu. Dan emang si Nulul ini ngrepotin sih sukanya.. hvfft

Inilah postingan Flash Fiction kita.

Wait, kita?

***

Faizal Reza

Waktu yang Tepat untuk Berpisah

—–

 

Di sebuah kafe payung, sepasang kekasih berbicara dengan wajah muram.

 

“Aku tidak bisa jadi pacarmu lagi,” kata si perempuan.

Lelakinya terdiam sejenak. “Putus? Oke.”

 

***

Fatmawati, Desember 2009

Nita Sellya

“Halo, sayang”

 

“Hei kamu, sibuk ya?”

 

“Nggak. Eh iya deh, sibuk kangen kamu.”

 

“Gombaaaaal kayak kain pel!”

 

“Hahaha. Kamu apa kabar hari ini?”

 

“Biasa lah, menikmati waktu sampai kita ketemu lagi.”

 

“Adeuuhh, bales ngerayu.”

 

“Biariin kan ke pacarku sendiri. Eh aku gak bisa lama-lama, gak apa-apa kan?”

 

“It’s okay. Yang penting udah denger suara kamu. Besok telpon lagi ya, sayang.”

 

“Pasti. I love you.”

 

“You know I love you even more.”

 

Klik.

 

Andi meletakkan handphonenya tertelungkup di meja. Baterainya tidak terpasang. Mita, kekasihnya,  hanya menghubunginya saat baterai handphone tidak terpasang. Kebiasaan anehnya sejak meninggal setahun lalu.

 

Andi bersenandung pelan.

 

“Since the first time on the phone. It’s you in my past, my present, and my future.”

Noviana Eva

Tunggu aku di Jakarta ~ katamu

Seberapa pantaskah kau tu ku tunggu ~ kataku

Jadikan aku pacarmu ~ katamu

Engkau anugerah terindah yang pernah kumiliki ~ kataku

Coba kenakanlah mahkota itu ~ katamu

 

(500 hari kemudian)

 

Aku pulaaaaanggg ~ katamu

Tak ada waktu tuk menjelaskan

Tak sangka ini kan datang ~ kataku

berbagai cara akan ku coba

agar aku takkan kehilangan

pandangan dari senyum itu ~ katamu

 

Maaf aku sekarang bersama Sephia ~ kataku

Mudah saja bagimu ~ katamu

 

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali

Kita berbincang tentang memori di masa itu

Peluk tubuhku usapkan juga air mataku

Kita terharu seakan tidak bertemu lagi ~ kataku

Irfan Nur Ilman

Seorang lelaki memainkan jemarinya mengetuk-ngetuk bagian belakang telepon genggam yang sedang ia gunakan.

Sedang satu tangan lainnya meremas sesuatu dalam saku.

 

 

Diujung telepon, sebuah bibir mengatup gemetar. 

“Aku masih perempuan yang mencintaimu”

Dengan suara serak yang lebih berisik dari angin di taman. Perempuan tersebut kembali berbicara.

“Ada satu hal yang harus kau pelajari. Bahwa saling mencintai, takan selalu saling memiliki”.

 

Tak ada suara. Isak tangis sang lelaki, lebih sunyi dari sebuah upacara pemakaman.

Kemudian jemarinya meraih sebuah cincin dari saku, lalu melemparnya jauh. Seketika matanya basah oleh awan yang mengumpul di pelupuk matanya.

Ia berbisik lirih.

 

“Baiklah, aku berhenti berharap”

Wandy Ghani

Aku menatapnya sekali lagi, dan aku tahu ada yang sedang ia sembunyikan. Tapi entah apa. 

 

“Kamu jangan lihatin aku terus.” Katanya pelan, lalu tersenyum.

 

“Kamu cantik.” Kataku tanpa rencana, seperti biasa. 

 

“Stop that.” Pipinya menyemu merah.

 

Ia kembali sibuk menenggelamkan diri pada buku yang ia baca. 

 

“Aku sayang kamu.” Aku mengusap rambutnya.

 

“Aku tahu. Dan itu bukan urusanku.” Jawabnya tanpa melirik.

 

Dan mendadak muncul semacam badai yang menghantam dadaku. Hanya dadaku. Telat di dadaku. Tepat di tempat, di mana biasanya liontin kalung berada.

Aku bisa merasakannya. Aku merasakan ada yang retak di dalam sana, namin itu tak penting lagi. 

 

Aku hanya diam. Lalu ia menutup buku, dan mendekatkan bibirnya ke pipi sebelah kiriku. Nafasnya terasa hangat.

 

“Menyayangiku adalah urusanmu. Dan urusanku adalah menyayangimu.”

 

Aku masih diam. Nafasnya terasa lebih hangat.

 

“Hingga ujung waktu…” Sambungnya sambil mencium puncak hidungku, perlahan. “…aku akan berurusan dengan kegiatan menyayangimu.”

 

Aku pikir aku tidak akan bisa tersenyum lebih lebar dibanding sore ini.

Eka Otto

“Lo di mana?”

“Di kantor.. Lo kenapa?”

“Gue ke sana sekarang, temenin gue nonton”

“Gue masih kerja”

“Yaudah gue nonton sendiri!”

“Eh, bentar-bentar.. Lo kenapa sih? Yaudah jemput gue sini”

“Oke”

 

 

“Hei, lo kenapa?”

“Bisa gak diem? Gak liat gue lagi nonton”

“Oke..”

 

 

“Fak. Kenapa sih mereka gak berfikiran positif?!”

“Hah?”

“Iya, kenapa tiap adegan film horor harus selalu didramatisir gini? Kenapa mereka gak berfikir positif mungkin itu cuma suara kucing”

“What? Hahaha apaan sih lo, nyet.”

“Lo lagi! Ngapain sih lo tau-tau ngajakin nonton film horor gini?! Sialan.. Mending gue tadi lanjutin kerja”

“Karena gue mau senyum”

“Hmmm?”

“Udah ah, ayok lanjut nonton”

 

 

—-

 

Di sepanjang perjalanan pulang kejadian dan kelakuannya terus terputar di kepala, aku tersenyum (lagi).  Entahlah ini apa, yang aku tau, ketika aku perlu mengembalikan senyumku, aku hanya perlu kembali melihat senyumnya. 

 

 

Rasakan resahku, dan buat aku tersenyum~ 

 

 

 

Karena kita sama-sama tau meski tanpa saling memberitahu, hanya kita yang bisa meredakan aku dan kamu.

Dian Megawati

“Aku sayang sama kamu”

 

 

“Iya aku tau..” Dia tersenyum

 

 

“Kamu juga sayang sama aku kan?” 

 

 

“Iya, aku sayang sama kamu”

 

 

 

“Kita tidak akan pernah terpisahkan bukan?”

 

 

“Pasti” dia tersenyum lagi

 

 

 

“Selamanya?”

 

 

 

“Selamanya…”

 

 

 

 

“Apapun yang terjadi kamu akan selalu di sampingku?”

 

 

 

“Iya” 

 

 

 

 

Aku mencium dan memeluknya. 

 

 

 

***

 

 

 

Entah sudah berapa kali dialong dan adegan ini kami ulang.

 

Aku mulai merasa nyaman berbicara dengan dinding di kamarku. 

 

Karena aku tahu hanya ini satu-satunya cara supaya dia tetap berada di sini, bersamaku, selamanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

-ketidak warasan padaku-

Akidna Rahma

“Gue ga percaya ada cowok baik yang segitu sayang sama ceweknya. Yang kayak gitu cuma ada di film cinta-cintaan doang, ya kan, Bay? Hahaha.”

 

Dia tertawa getir. Meneguk minuman dari gelas keempat di tangannya. Sekali lagi aku menemaninya. Menemani patah hatinya.

 

“Ada kali, Nin. Lo aja belom tau.”

“Hahaha. Lo tuh yaaa… Bisaaa banget ngehibur gue.”

 

Dia tiba-tiba berhenti bicara sebentar. Lalu memesan gelas kelima. Aku menyimak.

 

“Bay, kalopun ada cowok yang bisa gue kategoriin baik, itu juga cuma lo.”

 

Katanya setelah mengosongkan isi gelas yang baru dia pesan. Aku menyimak.

 

“Exactly, Nin. Dan juga cuma gue yang segitu sayangnya sama lo.”

 

Aku menimpali. Beberapa detik setelah kepalanya rebah tak sadar di pundakku. Dan tetap saja dia tak tahu, lagu yang dia suka, bintang yang dia sapa, rumah yang dia tuju, itu aku.

Dini Ramdhaniar

Dini hari

 

Lelaki itu mengendap-endap bak maling yang takut ketahuan. Perlahan ia kaitkan kedua sisi bungkusan plastik pada salah satu tonjolan besi pada sebuah gerbang kos-kosan. Kemudian perlahan ia berjalan keluar dan menutup pagar dengan hati-hati.

 

***

 

Siang hari.

 

Dita memijat pelan kepalanya yang masih terasa sakit.

 

“Damn you, Migrain!”, rutuknya dalam hati.

 

Perlahan ia beranjak dari kasurnya dan berjalan tertatih keluar kamar kosnya.

 

“Nasib anak rantau ibukota jauh dari orang tua, LDR pula sama pacar, lagi sakit gini apa-apa masih dilakuin sendiri”, keluh Dita.

 

Dita hendak membuka gembok di gerbang kosnya, namun ia mendapati ada bungkusan plastik dengan kertas yang bertuliskan:

 

“Get well soon, Ardita. I wish I can do something to make you feel better”

 

Dita mengambil bungkusan plastik itu, di dalamnya terdapat beberapa kaleng susu cair, beberapa botol minuman isotonik, beberapa sachet vitamin, sebungkus roti coklat dan obat migren.

Rizki Saputra

INT. RUANG TAMU – SORE

 

Wajah GUE ragu, Gue menjulurkan tangannya ke arah BAPAK hendak bersalaman.

 

Bapak melirik ke arah Gue, tapi Bapak tidak menghiraukan uluran tangan Gue.

 

Gue memasukkannya tangannya ke dalam kantong celana dan mengeluarkan sebuah foto berukuran 2R.

 

                       GUE

           Sekarang Dia sudah

           berumur 3 bulan.

                   (memberikan foto

                    kepada Bapak)

           Jadi…

 

Tangan Bapak dengan tegas mengambil foto dari tangan Gue.

 

                      GUE (CONT’D)

              Jadi saya harap…

                        (berdeham)

              Ehm… Saya harap…

              Bapak kini mengijinkan

              saya menikahi anak

              bapak.

 

Mata Bapak sudah berair.      

 

                      GUE (CONT’D) 

              Setidaknya agar kelak

              Dia tau kalau sayalah

              bapaknya.

Disa Tannos

Tunggu Aku di Jakarta

 

Kau tahu bagaimana cubitan kecil terasa lebih sakit dan berbekas lebih lama? Begitulah hal-hal kecil yang kaulakukan selalu tinggal di benakku dengan porsi lebih besar. Begitulah aku bisa melewatkan ulang tahunmu tahun lalu, tapi tak pernah lupa kebiasaanmu menyisakan kuning telur setengah matang untuk dimakan terakhir karena itu bagian favoritmu.

 

Aku juga tak pernah lupa tangismu yang seperti anak kecil ketika sedih. Seperti waktu kucing kesayanganmu mati, atau saat kau nyaris diusir ayahmu karena ketahuan mabuk. Kau tersedu-sedu lalu memintaku bernyanyi dengan gitar dan menimpali dengan suaramu yang fals. Bahkan aku selalu ingin mendengar suaramu yang fals saat lagu itu kunyanyikan sendiri.

 

Tapi hari itu kau menangis tanpa suara. Kau tak memintaku bernyanyi. Kita hanya diam, berjam-jam. Aku tahu apa yang terjadi. Aku tahu dan tak mau bertanya.

 

Tapi aku akan datang. Tunggu aku di Jakarta, Sayang. Di hari pernikahanmu nanti, biar aku yang jadi air mata.

Widya Pratiwi

“Kamu beneran mau ngelepasin aku? Terus kamu gimana?”, tanyanya, sambil aku lihat berusaha keras menahan genangan air di pelupuk matanya agar tidak jatuh. 

 

Aku cuma tersenyum, seperti biasa, sambil memencet hidungnya, “Nanti aku nyanyiin Someone Like You buat kamu, hehehe..” 

 

“Nggak lucu…”

 

“Yaudah, kamu maunya gimana?”, aku kembali tertawa, kali ini sambil menarik bibir mungilnya yang maju beberapa centi.

 

“Seharusnya kamu temui papa, bilang kalo yang bisa bahagiain kamu itu cuma aku..”

 

“….”

 

Aku terdiam lama sekali, sementara satu-satunya gadis yang aku cintai sekarang sibuk mengusap bulir-bulir air yang semakin lama semakin deras di pipinya.

 

(setengah jam kemudian)

 

“Seandainya aku bisa, aku udah ngelakuin itu dari kemarin.” 

 

Aku bangkit dari duduk, beranjak ke arah pintu sambil menarik tubuhnya, kurapatkan tubuhnya di dinding, dan ku tatap wajahnya lekat-lekat, 

“Calon pengantin matanya gak boleh kayak kodok…”, ujarku sambil mencubit pipinya. 

 

Lalu aku tertawa mendengar kata-kataku sendiri, terus tertawa sampai akhirnya aku menghela napas berat, tak tahan ku raih wajahnya, dan mendaratkan bibirku di atas bibirnya.

 

Ada yang berbeda saat aku memejamkan mata, dan mencoba menikmati manis bibirnya yang selalu aku kagumi, bukan hangat, bukan nikmat, tapi perih.

 

Kami kembali saling terdiam, lebih lama dari sebelumnya. 

 

“Aku minta maaf ya, nggak bisa perjuangin kamu, sekarang aku harus pergi..”

 

dengan berat hati aku menyeret langkahku ke luar, baru beberapa langkah, aku mendengar tangisnya semakin keras, aku berbalik, menghela napas sekali lagi, 

“Oh ya, kamu cantik sekali dengan kebaya pengantin itu, sama kayak yang ada dalam bayanganku beberapa tahun terakhir ini. Selamat berbahagia sayang, selamat menempuh hidup baru..”

 

 

 

Seandainya, ku dapat memilih, untuk tak pergi, dan tetap di sini..♫

Daus Gonia

“Liaaaat ada UFO” (”°͡o°)͡-σ 

 

Tiba-tiba Renggi berteriak.. 

 

“Apa sih kamu, aku lagi serius gi. kamu bisa serius dikit ga sih” Dengan wajah yang tetap anggun Ira sedikit marah kepada Renggi

 

“Iye bawel, apaan?”

 

“Kan kataya semua alam semesta itu diciptakan dalam 6 hari, nah! Berhubung satuan hari itu dihitung dari pergerakan bumi dan matahari. Bagaimana mereka tau lamanya 6 hari kalo bumi dan matahari aja baru diciptakan?”

 

Renggi diam sebentar, kira-kira 0.644 detik lamanya.

 

“Gini deh ra, kamu tau teori evolusi? Itu ga ada hubungannya sama yang kamu tanyakan. Yang jelas, bagaimanapun proses penciptaannya, aku sayang kamu” Dengan wajah yang serius dan diakhiri dengan cengiran yang lebar.

 

“Ah kamu maaaaaah, ga tau ah. Eh gi, udah sore, kayaknya aku harus pulang. Yuk pulang”

 

“Iya, hayuuuk” sambil tersenyum renggi membantu mengangkat kulkas yang selalu dibawa-bawa ira ke mana-mana.

 

“Eh ra..”

 

“Apa?”

 

“Terima kasih”

 

“Terima kasih apaan?”

 

“Terima kasih atas semuanya ra. Terima kasih karena kamu pernah mau”

 

Kemudian.. Mereka terpisah di sebuah persimpangan. Ira menuju rumahnya, dan Renggi, renggi berputar arah.. Menuju tempat yang tadi dia tunjuk sebelumnya.

 

Di tempat itu ada sebuah pesawat luar angkasa aneh berbentuk kotak, semacam kaleng khong guan.

 

“Ra, aku harus pulang. Dan maaf, sampai saat terakhir aku ga bisa cerita yang sebenarnya kepada kamu. Terima kasih ra, kamu pernah mau”.. 

 

Renggi berbicara di dalam hati dengan wajah yang sedih, karena kalo berbicara di dalam kulkas pasti dingin.

 

Renggi harus pulang ke tempat asalnya di planet cemilian.

 

Dan mereka tidak pernah bertemu lagi sampai beribu-ribu tahun cahaya.

 

Satu-satunya yang ditinggalkan renggi untuk ira adalah selembar kertas berisi kalimat singkat yang dititipkan pada tukang ketoprak.

 

“Terima kasih, karena kamu pernah mau Ira”- Renggi nanggaring 

 

– waktu yang tepat untuk berpisah –

Putu Aditya Nugraha

SEKALI LAGI.

____________

 

Seikat bunga, sebatang cokelat dan sebuah kartu bertuliskan puisi. Tanganku menggenggam mereka dengan gemetar. Lima menit lagi.

 

Empat menit lagi.

 

Tiga menit.

 

Dua.

 

Riang suara tawa hadir lebih dulu dari dalam lorong itu. Kemudian, tiba dia, berjalan dengan teman-temannya. Aku segera mendekati mereka.

“Hai,”

“Oh, hai,”

“Ini untuk kamu, selamat ulang tahun ya!”

“Terima kasih, wah bagus sekali bunganya!”

 

Dia mencium dan terlihat sangat menghayati harum bunga itu. Entah sungguhan entah berpura-pura. Kalau pun geraknya palsu, itu menyenangkanku.

 

“Nanti malam kamu ada acara? Kita makan di Seminyak?”

“Yaaah, maaf aku nanti sudah ada janji sama Edo,”

“Oh ya udah, lain kali aja,”

“Maaf ya, Ren?

“Its okay, Santi, have a great birthday then.”

 

———-

 

Setangkai bunga, sebatang cokelat dan sebuah kartu bertuliskan puisi. Tanganku menggenggam dengan gemetar. Lima menit lagi.

 

Empat menit lagi.

 

Tiga menit. Kuatur nafasku.

 

Gema langkah sepatunya hadir lebih dulu dari dalam lorong itu. Kemudian, tiba dia, berjalan sendiri menggendong ransel cokelatnya. Aku segera mendekatinya.

“Halo,”

“Eh, hai,”

“Selamat ulang tahun! Ini untuk kamu!

“Wow thanks! Asik nih bunganya!”

 

Dia mencium dan terlihat sangat menghayati harum bunga itu. Entah sungguhan entah berpura-pura. Kalau pun geraknya palsu, itu menyenangkan.

 

“Nanti malam kamu kemana? Kita makan di Seminyak?”

“Nanti aku nanti sudah ada janji sama Dewi,” jawabnya, mematok hening di antara kami.

 

“Oh ya udah, lain kali aja,”

“Maaf ya, San,”

“Its okay, Ren, have a great birthday night ya,” kututup percakapan kami dengan ciuman di pipinya. Lalu melepasnya menuju parkir mobil di kampus kami.

 

Aku berbalik dan suara lagu dari dalam sekretariat himpunan berkumandang.

“Bila hidup, harus berputar, biarlah berputar.

Akan ada harapan sekali lagi…”

 

Kemudian hujan turun, dan tak kusadari pipiku telah basah.

 

_______

dps2013

di toilet

Sekian, selamat merayakan 07 DES^^


One thought on “Kompilasi Flash Fiction dari lagu-lagu Sheila On 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s